Catatan tentang Autisma – Para Ibu yang hebat

Kemarin aku membaca sebuah posting dari seorang teman di facebook. Temanku ini memiliki adik seorang penderita autis. Yang membuat aku salut adalah dia tidak pernah terlihat malu memperlihatkan jika dia adalah kakak dari seorang autis. Berikut adalah sebuah catatan darinya yang aku ambil dari tumblr nya            

Pada tanggal 2 November lalu, Saya pergi ke sebuah tempat bernama Little Ant. Sebuah tempat pembelajaran bagi anak – anak (setara dengan playgroup dan TK) untuk melihat sebuah pertemuan para ibu yang memiliki anak Autisma. Sebenarnya pertemuan ini juga baru saya ketahui dari ibu saya yang diundang ke dalam acara. Ibu saya juga memiliki anak autisma – yang otomatis adalah adik saya – dan tergolong autis besar, yang jika dilihat dari umur adalah 17 tahun. Pada hal berikut, akan ditulis beberapa poin – poin kecil yang telah saya dengar karena akan sulit dan lama untuk membahas para ibu ini satu  -persatu.
Dari semua penuturan yang ada, anak – anak autisma yang disebutkan berkisar usia antara 5 – 10 tahun (tidak termasuk autis besar seperti adik saya dan salah satu temannya) . Para ibu ini tidak berlatar belakang pengetahuan yang cukup memadai tentang masalah ini (autisma)  pada awalnya. Mereka melalui media massa seperti majalah orang tua dan diagnosa sederhana dari dokter mencari jawaban atas putra – putri mereka yang sejak lahir berkelakuan tak normal.  Anak – anak ini alergi terhadap makanan berbahan tertentu seperti tepung yang dapat meningkatkan keaktifan mereka secara berlebih. Pemberian diet juga dilakukan untuk menguranginya. Adanya kemungkinan tantrum yang besar pada anak – anak seperti ini membuat lembaga pendidikan merasa kewalahan. Seperti yang diketahui, negara menampung anak Autisma dengan catatan tidak mengganggu pembelajaran. Melalui pernyataaan dan kelakuan anak seperti mengamuk, apakah mungkin mereka mau menerima dengan tulus sementara biaya yang dikeluarkan tidak sedikit?
                Hal lain yang dikeluhkan adalah masalah biaya dalam pendatangan terapis bagi anak – anak mereka. Kebanyakan sumber yang hadir merupakan istri yang tidak bekerja secara cukup, tambah lagi mereka juga memiliki anak lain yang harus diurus. Sekitar dua ibu menuturkan bahwa anak mereka lahir secara Caesar. Ada juga yang mulai terlihat menjukkan gejala Autisma setelah sakit seperti kejang dan panas. Hal ini menunjukkan bahwa Autisma juga bisa terlihat atas dasar beberapa pemicu seperti sakit, tidak langsung diagnosa lahir.
                Hal yang menjadi dilemma dari para ibu di sini adalah rasa malu memiliki anak – anak Autisma dan kasih sayang. Mereka mengaku ‘pergi’ saat mereka melihat anak mereka berlaku aneh.  Rasa frustasi dan lelah membuat mereka merasa  – secara kasar – ingin bebas dengan membunuh anak mereka. Namun di sisi lain, rasa sayang mereka terbukti saat berusaha membuat anak mereka memiliki skill agar dapat bertahan hidup nantinya. Telah ada beberapa di antara mereka yang mengursuskan anak mereka sesuai dengan bakat yang sekiranya ada seperti gambar dan musik.
Yang bisa saya katakana di sini, mereka merupakan ibu yang hebat. Tak banyak orang – orang yang mau menjaga anak mereka dalam kondisi khusus selama bertahun – tahun.  Mereka mau menghabiskan uang untuk anak mereka demi kemampuan yang baik untuk bekal mereka hidup baik secara materi dan norma serta usaha mereka untuk membuka pikiran agar dapat maju sesuai harapan.
                 Sekali lagi, ibu – ibu ini sangat hebat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s